Kisah Hidup sang Egois (Pare Story #1)


Alasan saya menulis ini atas keinginan berbagi dan bercerita yang akan saya tuangkan dalam sebuah media, entah itu berupa tulisan ataupun yang lainnya. Tulisan ini dibuat untuk merangkum Ilmu (Di Luar Bahasa Inggris) yang saya dapatkan di Kampung Inggris Pare, Kediri.
 
Jika kalian mengenal saya, dan mungkin dekat dengan saya, kalian pasti menyadari betapa berubahnya seorang Rivai sepulangnya ia dari suatu tempat yang jauh bernama Pare. Berlokasi di Kabupaten Kediri, Pare adalah nama salah satu Kecamatan dari Kabupaten tersebut. Kampung Inggris, adalah nama beken dari tempat ini, Walaupun kursusan Bahasa inggris cukup mendominasi, tak sedikit juga kursusan Bahasa Asing lainnya, Entah berapa banyak kursusan Bahasa asing yang ada ditempat ini.


Umurnya 18 saat itu, Belum 2 Bulan sang ibu meninggalkan Rivai untuk selamanya, menyusul sang Ayah yang pergi lebih dulu 10 tahun lalu, bagai anak tak tahu arah jalan hidup, ia bingung sekarang harus jalan kemana untuk meneruskan masa depannya, Terpintas dalam pikiran bahwa Bahasa asing khususnya Bahasa inggris sangat penting untuk kedepanya.

Rivai dengan sangat yakin dan berharap akan mempunyai kemampuan Bahasa Inggris yang mumpuni nantinya. Dengan segenap mimpi yang ia genggam, dan tekad yang kuat. Rivai dengan mantap pergi ke Pare, mengikuti kursus selama tiga bulan, di salah satu Lembaga kursus yang ada di Pare, dimulai dari 25 Juli 2018.

Tiga hari di Pare Rivai tumbang dalam sakitnya, mungkin karena belum terbiasa dengan lingkungan, tak sulit untuk menyembuhkan hanya dengan jamu sachet yang diminum 2 kali ia sudah kembali sehat seperti sediakala.
Di Pare, Hidup layaknya tentara, Jam bangun kalian diatur, kegiatan kalian diatur, sampai ada beberapa kursusan yang mengatur juga cara kalian dalam berpakaian.
Belum lagi cuaca disana sangat tidak bersahabat untuk pendatang, Bayangkan di siang hari terik matahari bagaikan menggerogoti kulit kalian dengan panasnya, karena sedang gencarnya pembangunan Debu-debu dari proyek pembangunan kadang sangat tidak bersahabat sekali bagi pernapasan, Di malam hari dingin teramat dingin sampai rasanya bisa menusuk kedalam tulang.

Seminggu berlalu, Rivai menyadari bahwa banyaka sekali metode belajar yang diterapakan di sini, Mulai dari cara belajar formal layaknya seorang guru mengajari muridnya lewat papan tulis, sampai dengan belajar menggunakan metode games yang hukumanya menggunakan bedak dan lainnya, sedikit terdengar aneh memang, Cuma percaya atau tidak saya lebih suka menyebut metode “bedak” itu sebagai penghilang stress dari pada disebut metode belajar.


Ilmu yang saya dapat setelah 1 minggu di Pare :
  • Mencoba untuk tahan banting di Perantauan.
  • Mengatur hidup lebih teratur.
  • Mengetahui banyaknya metode dalam belajar, dari sana kalian tahu mana yang efektif untuk kalian, mana yang tidak.


Share:

0 komentar