Terlupakan


Lama tak bersua kini nona tampak lebih manis dengan bedak tipis.
Pakaian nona pun lebih bervariasi dengan model-model terkini.

Ingin sekali saya berbalas pesan dengan nona selayak nya dulu, namun saat saya coba buka percakapan nona hanya membalas melalui centang biru.

Jengah?
Lelah?
Apakah itu yang ada dihati nona saat mendengar nama saya?

Apakah nona ingat akan janji nona kepada saya?
Janji yang saya anggap dari hati kini mungkin sudah nona lupakan entah kemana.

Kisah bahagia yang dulu terukir indah, kini hanya tinggalah kisah.

Bibir tipis dengan senyum bahagia yang dulu nona sering lemparkan kepada saya, kini macam buah belimbing yang dimakan mentah.


Selamat kini hati nona telah tertambat oleh sosok baru.
Yang mungkin lebih elok kepribadiannya, lebih cemerlang otaknya, lebih akan segalanya.

Daripadapun saya hanya sesosok anak muda yang entah akan kemana jalan nya, yang untuk kuliah pun saya susah, Hidupnya tidak terurus, hanya mengandalakan kebisaan yang seadanya.

Sudahlah, untuk apa menghinakan diri kepada seseorang yang mungkin lupa bahwa saya pernah ada dihidupnya.

Namun..

Saya tak ubahnya orang bodoh lainnya, nama nona masih terapal dalam doa saya setiap malamnya.

Share:

0 komentar